Sejarah Penamaan Gunung Kemukus Pangeran Samudro dan pengikutnya sebenarnya sangat diharapkan untuk
kembali ke Kasultanan Demak oleh Sultan Demak, namun ajal terlebih
dahulu menjemput Pangeran Samudro. Sultan Demak mengatakan, “Menurut
hematku bahwa sakitnya Si Samudro itu sudah tidak bisa diharapkan untuk
membaik dan jauh kemungkinan untuk sampai ke Demak. Kiranya jika memang
sudah menjadi suratan Yang Maha Kuasa bahwasanya sampai di situ saja
riwayatnya, maka saya memberi petunjuk jika Si Samudro sudah sampai
ajalnya, maka kebumikanlah jasadnya pada suatu tempat di bukit arah
barat laut dari tempat Pangeran Samudro meninggal.
Sebab boleh jadi
kelak di sekitar tempat itu akan menjadi ramai sehingga dijadikan
tauladan orang-orang di sana”.
Pada awalnya keadaan di lokasi Makam Pangeran Samudro sangatlah sepi
dan jarang dijamah orang karena letaknya di tengah hutan belantara,
serta banyak dihuni oleh binatang-binatang buas. Namun, sedikit demi
sedikit keadaan berubah setelah daerah tersebut dihuni oleh para
penduduk.
Selanjutnya diterangkan bahwa di atas bukit tempat Pangeran Samudro
dimakamkan, apabila menjelang musim hujan ataupun kemarau tampaklah
kabut-kabut hitam seperti asap (kukus). Karena hal itulah, penduduk
setempat menyebut bukit itu “Gunung Kemukus” sampai dengan saat ini.
Demikianlah asal-usul Gunung Kemukus.
Sejarah Sendang OntrowulanSetelah menerima kabar dari Abdi Dalem Pangeran Samudro, Sultan
Demak kemudian menyampaikan berita meninggalnya Pangeran Samudro
tersebut kepada ibu Pangeran Samudro, R.Ay. Ontrowulan. Terkejutlah
beliau mendengar berita tersebut dan memutuskan untuk menyusul ke
tempat Pangeran Samudro dimakamkan. Kepergian ibunda Pangeran Samudro
ke makam putranya diantar oleh abdi Pangeran Samudro yang setia. Ibunda
Pangeran Samudro berniat untuk bermukim di dekat Makam Pangeran Samudro
dan merawat makam putranya tersebut.
Setelah sampai di pemakaman, ibunda Pangeran Samudro langsung
merebahkan badannya sambil merangkul pusara putra satu-satunya yang
amat dicintainya.
Sampai pada suatu ketika ia merasa bertemu kembali
dengan putranya serta dapat bertatap muka dan berdialog secara gaib :
“
Oh Ananda begitu sampai hati meninggalkan aku dan siapa lagi yang
kutunjuk sebagai gantimu, hanya engkau satu-satunya putraku dan aku
tidak dapat berpisah denganmu”.
Jawab Pangeran Samudro :
“
Oh Ibunda, Bunda tentu tidak dapat berkumpul dengan Ananda sebab
ibunda masih berbadan jasmani dan selama belum melepas raga, untuk itu
harus bersuci terlebih dahulu di sebuah “sendang” yang letaknya tidak
jauh dari tempat ini”.
Setelah terbangun dan tersadar dari pertemuan dengan putranya, beliau
pun bangkit dan pergi ke sendang yang dikatakan putranya untuk bersuci.
Setelah itu, rambutnya yang sudah terurai dikibas-kibaskan dan jatuhlah
bunga-bunga penghias rambutnya. Konon bunga-bunga tersebut tumbuh mekar
menjadi pepohonan “
Nagasari” yang dapat dijumpai di sekitar lokasi
hingga kini.
Oleh karena tebalnya rasa kepercayaan ibunda Pangeran Samudro yang
melampaui batas keprihatinan, beliau akhirnya dapat mencapai muksa
secara gaib sampai badan jasmaninya. Hal ini dikarenakan tak seorang
pun tahu kemana perginya R.Ay. Ontrowulan atau dengan kata lain ibunda
Pangeran Samudro hilang tak tentu rimbanya. Untuk mengenang peristiwa
tersebut tempat bersuci R.Ay. Ontrowulan, diberi nama “Sendang
Ontrowulan”.
Sejarah dan Waktu Ziarah di Makam Pangeran Samudro:
- Setiap hari selalu ada pengunjung yang berziarah ke Makam Pangeran Samudro meskipuntidak banyak. Beberapa di antara mereka bahkan ada yang melakukan suatu pantangan/sesirihtertentu, misalnya melakukan pati geni selama beberapa hari di sana.
- Setiap Kamis malam Jum’at jumlah pengunjung lebih banyak dari hari-hari biasa.
- Setiap Kamis malam Jum’at Pon dan Kamis malam Jum’at Kliwon merupakan puncak kunjungan wisatawan/peziarah. Tidak kurang dari 10.000 pengunjung dari berbagai daerah di Jawa dan luar Jawa datang untuk berziarah di tempat ini.
Puncak kunjungan wisatawan/peziarah di Gunung Kemukus terjadi setiap
malam Ju’mat Pon di bulan Suro/Muharam. Pengunjung malam Jum’at Pon di
bulan Suro/Muharam mencapai 15.000 orang dan pada malam Jum’at Kliwon
di bulan Suro/Muharam mencapai 7.000 orang. Pada hari pertama di bulan
Suro/Muharam diadakan ritual pencucian selambu makam Pangeran Samudro,
yang biasa disebut dengan ritual Larab Slambu/Larab Langse, yang
dilanjutkan dengan pentas wayang kulit semalam suntuk sebagai acara
rutin tahunan di objek wisata ini.
Waktu yang tepat untuk berziarah menurut literatur yang ada dan
tradisi masyarakat di sekitar Gunung Kemukus adalah hari Kamis malam
Jum’at Pon. Hal ini bertolak dari kisah pada zaman kerajaan Demak,
sebagai berikut :
Pada suatu ketika di hari Jum’at Pon setelah Sultan Demak melaksanakan
sholat berjamaah (Jum’atan), beliau melayangkan pandangannya ke atas
dan dilihatnya sebuah bingkisan. Kejadian tersebut tidak diketahui oleh
seorang pun kecuali oleh Sultan sendiri. Bingkisan tersebut lalu
diambil dan didalamnya terdapat kain putih yang bertuliskan “Ini adalah
pakaian untuk bekel (Senopati) Tanah Jawa”. Sebuah benda berbentuk
“Kotang Ontokusumo”. Kemudian menurut adat, pakaian ini dikenakan oleh
orang yang akan memangku jabatan Pangeran Pali.
Kemudian kejadian itu dijadikan sebagai dasar / ketentuan dengan para
wali. Ketentuan di mana apabila Sultan Demak berkenan mengadakan
pertemuan dengan para wali, maka waktunya ditentukan yaitu tepat pada
hari Jum’at Pon untuk memperingati peristiwa penemuan Pusaka Kotang
Ontokusumo.
Berdasarkan pada cerita tersebut, masyarakat sekitar kemudian
menjadikan malam Jum’at Pon sebagai puncak tahlilan/do’a bersama.
Sampai saat ini, pada setiap malam Jum’at Pon banyak orang
berduyun-duyun datang untuk berziarah ke Makam Pangeran Samudro di
Gunung Kemukus.
Inti Ziarah di Makam Pangeran Samudro“
Sing sopo duwe panjongko marang samubarang kang dikarepke bisane
kelakon iku kudu sarono pawitan temen, mantep, ati kang suci, ojo
slewang-sleweng, kudu mindeng marang kang katuju, cedhakno dhemene kaya
dene yen arep nekani marang panggonane dhemenane” (Kadjawen, Yogyakarta
: Oktober 1934)
“
Barang siapa berhasrat atau punya tujuan untuk hal yang dikehendaki
maka untuk mencapainya harus dengan kesungguhan, mantap, dengan hati
yang suci, jangan serong kanan / kiri harus konsentrasi pada yang
dikehendaki / yang diinginkan, dekatkan keinginan, seakan-akan seperti
menuju ke tempat kesayangannya / kesenangannya”.
Petikan naskah atau wacana tersebut memang dapat ditafsirkan keliru,
khususnya oleh masyarakat awam. Ada pendapat yang keliru yang
mengatakan bahwa apabila berziarah ke Makam Pangeran Samudro harus
seperti ke tempat kekasih/dhemenan dalam pengertian bahwa berziarah ke
sana harus membawa isteri simpanan atau teman kumpul kebo serta
melakukan hubungan seksual dengan bukan istri atau suami yang sah..
Parahnya, pendapat tersebut telah diterima oleh sebagian besar
masyarakat.
Akan tetapi pandangan atau pendapat tersebut tidak benar dan perlu
diluruskan. Munculnya pendapat tersebut berawal dari penafsiran
pengertian kata “dhemenan”. Pengertian kata “dhemenan” dalam bahasa
Jawa diartikan kekasih lain yang bukan isteri/suami sah (pasangan
kumpul kebo), kekasih gelap, isteri/suami simpanan. Sehingga
pengertiannya menjadi apabila ziarah ke Makam Pangeran Samudro harus
membawa dhemenan.
Arti sesungguhnya dari kata “
dhemenan” dalam konteks naskah dalam
bahasa Jawa tersebut adalah keinginan yang diidam-idamkan, cita-cita
yang ingin segera terwujud/tercapai seperti seakan-akan ingin menemui
kekasih.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa inti ziarah di Makam
Pangeran Samudro di Gunung Kemukus adalah apabila punya kemauan,
cita-cita yang ingin dicapai atau apabila menghadapi rintangan yang
menghalangi jalan untuk mencapai cita-cita/tujuan tersebut harus
dilakukan dengan cara sungguh-sungguh, hati yang bersih suci dan
konsentrasi pada cita-cita dan tujuan yang akan dicapai/dituju. Dengan
demikian, terbukalah jalan untuk mencapai cita-cita dan tujuan tersebut
dengan mudah.
Nilai-nilai Keteladanan Pangeran Samudro Apabila saat ini Makam Pangeran Samudro selalu ramai dikunjungi oleh
peziarah adalah karena adanya keyakinan bahwa semasa hidupnya Pangeran
Samudro adalah orang yang mulia, besar jasanya pada bangsa dan negara,
serta selalu berbuat baik dan menghormati sesama.
Hal-hal yang perlu diteladani oleh para peziarah dari seorang figur Pangeran Samudro adalah :
- Ketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa
- Menghargai orang tua sebagai perantara lahir manusia ke dunia.
- Selalu taat dan setia kepada negara dan Sultan (Pemerintah)
- Tidak takut menghadapi kesukaran,dan penderitaan dalam menunaikan tugas.
- Seorang tokoh pendamai/pemersatu bangsa dan selalu bertanggung jawab.
INFORMASI UMUM
Lokasi Administratif Secara administratif, Obyek Wisata Gunung Kemukus terletak di Desa
Pendem, Kecamatan Sumberlawang, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.
Letak Geografis
Secara geografis, Objek Wisata Gunung Kemukus terletak sekitar ± 29
KM di sebelah utara kota Solo. Dari Sragen sekitar 34 KM ke arah utara.
Jarak tersebut bisa dicapai dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun
kendaraan umum.
Dari kota Sragen dapat ditempuh selama ± 45 menit dengan kendaraan
bermotor melewati jalan Sragen - Pungkruk/Sidoharjo - Tanon -
Sumberlawang/Gemolong - Gunung Kemukus.
Dari kota Solo dapat menggunakan kendaraan bermotor selama ± 30 menit,
melewati jalan Solo – Purwodadi turun di Barong kemudian menuju Gunung
Kemukus dengan perahu menyeberangi Waduk Kedung Ombo.
Spesifikasi Makam Pangeran Samudro di Gunung Kemukus Kawasan Gunung Kemukus merupakan sebuah bukit dengan ketinggian
sekitar 300 meter di atas permukaan laut. Dengan dibangunnya Waduk
Kedung Ombo menjadikan Makam Pangeran Samudro berada di atas bukit yang
menjorok ke tengah Waduk Kedung Ombo. Oleh karena itu, Obyek Wisata
Gunung Kemukus juga merupakan salah satu objek wisata tirta di
Kabupaten Sragen.
Komplek Makam Pangeran Samudro adalah Obyek Wisata Budaya di Kabupaten Sragen. Kawasan tersebut terdiri dari :
- Bangunan utama berbentuk rumah joglo dengan dinding batu bata dan bagian atasberdinding kayu papan. Didalamnya terdapat tiga makam. Satu buah makam besar yangditutupi kain selambu adalah makam Pangeran Samudro dan R.Ay. Ontrowulan. Sedangkan duamakam lainnya adalah makam dua abdi setia Pangeran Samudro yang selalu mengikuti beliaukemanapun pergi.
- Di sebelah kanan makam terdapat sendang (sumber air) yang bernama “Sendang Ontrowulan”. Sendang tersebut merupakan tempat bersuci R.Ay. Ontrowulan ketika akan menemui putranya yang sudah meninggal. Air sendang tersebut dikenal tidak pernah habis, bahkan di musim kemarau sekalipun.
Fasilitas PengunjungKawasan Wisata Gunung Kemukus dilengkapi dengan berbagai fasilitas
pendukung pariwisata yang tentu saja bertujuan untuk menciptakan
kenyamanan bagi para pengunjung, antara lain: mushola, kamar kecil,
tempat parkir, penginapan, dan ruang informasi.